skip to main |
skip to sidebar
TAK terasa, bulan Ramadan sudah tiba. Lantas, apa si kecil menyambutnya dengan suka cita? Atau justru si kecil baru akan belajar berpuasa? Kalau ya, ada baiknya ajarkan si kecil berpuasa secara bertahap, sesuai dengan usianya.
Pun dengan kata-kata yang mudah dimengerti. Memang tidak mudah, Moms! Seperti apa caranya?
Sejak Usia 4 Tahun Bisa Berpuasa
Sebenarnya, ujar Natasha Nugraha, Psi, puasa itu sifatnya wajib bagi anak usia akil balik. Meski begitu, sebaiknya orangtua melatih anak berpuasa sejak dini, bahkan usia 4 tahun sekalipun.
"Batasan waktu melatih anak berpuasa bergantung pada individu anak, juga lingkungan yang memengaruhi motivasi berpuasa. Bagi anak-anak usia usia 5-7 tahun, misalnya, memerlukan waktu yang bertahap, seperti puasa ¼ hari, ½ hari, bahkan ada pula anak usia 6 tahun pun bisa berpuasa penuh," terang Rienani S Mahadi.
Umpamanya saja, anak makan sahur. Kemudian, puasa dengan berbuka dengan makanan lengkap bergizi di tengah waktu Zuhur. Selanjutnya, berpuasa kembali hingga Magrib tiba.
Menggunakan Kata-Kata Positif
Seringkali anak bertanya, "Ma, puasa itu tidak boleh makan, ya!" Sekilas pernyataan itu benar, tapi tahukah Anda bahwa hal itu dapat menimbulkan kekhawatiran baginya? Sebaiknya, orangtua menjelaskan makna puasa dengan kata-kata positif.
"Sayang, puasa itu tetap memperbolehkan kita makan. Hanya saja pola makannya diubah di bulan Ramadan. Sekarang, makan paginya itu sebelum Subuh dan makan siangnya dimundurkan saat Magrib," Natasha menyontohkan.
Manfaat Puasa
Ketika anak memahami benar makna puasa, maka dia pun akan memiliki motivasi yang kuat. Seperti diungkapkan Natasha, ada beberapa hal yang menarik untuk disimak anak, yakni:
- Agama. Puasa adalah sunah dari Allah. Sebagai ganjarannya, mendapat pahala.
- Kesehatan. Menyehatkan tubuh. Sebab, lambung itu perlu istirahat selama 11 bulan bekerja keras. Selain itu, kerja enzim yang diproduksi dalam saluran cerna membantu proses tumbuh kembangnya.
- Cerdas Emosi dan Sosial. Meningkatkan Kecerdasan emosi. Hal ini didukung dengan penelitian dari Stanford University yang meneliti kepada anak terhadap tawaran marshmallow. Lalu, anak-anak itu ditawarkan satu marshmallow atau dua marshmallow bagi yang bersedia menunggu dalam beberapa menit. Ternyata, hasil penelitian menyebutkan anak yang dapat menunggu itu memiliki kematangan emosi dan sosial lebih bagus, lebih sabar, toleran dan lebih peka terhadap kondisi, serta kebutuhan orang lain.
Perhatikan Asupan Gizi Anak
Ternyata, entah itu berpuasa atau tidak, anak-anak memerlukan nutrisi dan energi untuk pertumbuhannya.
"Tidak ada satu nutrisi yang lebih penting dari yang lain. Untuk tumbuh optimum, dia musti tercukupi kebutuhan (± 40 macam) nutrisi dari beragam makanan bergizi seimbang, termasuk susu dalam menu hariannya," papar Rienani.
Oleh karena itu, orangtua musti memerhatikan asupan makanan dari sisi:
- Jumlah memadai. Sesuai kebutuhan.
- Jenis Beragam & berganti, baik bahan makanan maupun menu masakannya.
- Jadwal teratur. Sahur susu dan makanan lengkap sebagai sarapan, berbuka puasa sebagai snack, makan malam, minum susu & snack sebagai bekal tidur.
- Aman. makanan harus bebas cemaran (partikel maupun mikroba berbahaya).
sumber : www.okezone.com
0 komentar:
Posting Komentar